FAUNA INDONESIA BAGIAN TENGAH
Fauna di wilayah Indonesia bagian tengah
disebut pulau fauna Peralihan. Di katakan sebagai peralihan karena terletak di
antara garis Wallace dan garis Weber. Wilayah ini meliputi pulau Sulawesi,
kepulauan Nusa Tenggara (pulau Komodo, Lombok, Sumba, Flores, dan pulau-pulau
kecil lainnya), serta Pulau Timor. Contoh fauna di wilayah Indonesia bagian
tengah adalah sebagai berikut:
A. Sulawesi
1.
Burung Maleo
Klasifikasi Burung Maleo
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Aves
Ordo : Galliformes
Famili :
Megapodiidae
Genus : Macrocephalon
Spesies : Macrocephalon
maleo
Burung
maleo merupakan spesies burung endemik yang berasal dari pulau Sulawesi. Burung
ini endemik di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi seperti Sulawesi
Tengah dan Gorontalo. Populasi terbanyak dari burung Maleo sendiri yaitu di
Sulawesi Tengah lebih tepatnya di wilayah Taman Nasional Lore Lindu yang
populasinya ditaksir sekitar 320 ekor.
Burung
maleo memiliki ciri kulit sekitar mata berwarna kuning, bulu berwarna hitam,
kaki abu-abu, iris mata kecoklatan, bulu sisi bawah berwarna merah muda
keputihan serta memiliki paruh yang berwarna jingga. Selain itu di atas kepala
burung Maleo terdapat jambul keras berwarna hitam. Untuk jantan dan betina
memiliki ciri yang hampir serupa namun dapat dibedakan dari perbedaan ukuran
tubuh, dimana burung betina memiliki ukuran yang lebih kecil dari burung
jantan.
Burung
Maleo sendiri memiliki beberapa keunikan yaitu adanya tonjolan di kepala,
habitat dekat sumber panas bumi, Tidak suka terbang, ukuran telur yang besar,
saat menetas anak maleo langsung bisa terbang, bersifat Monogami serta burung
maleo tidak mengerami telurnya.
2. Kera Hitam Sulawesi
Klasifikasi Kera Hitam Sulawesi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : M.nigra
Kera Hitam Sulawesi yang memiliki nama latin Macaca nigra. Kera ini memiliki ciri-ciri dimana seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu berwarna hitam lebat kecuali pada bagian punggung serta selangkangan yang berwarna agak terang dan juga pada bagian pantat yang berwarna kemerahan. Ciri selanjutnya dari kera ini yakni pada kepalanya terdapat jambul yang agak menonjol dengan panjang tubuh dewasa 45-57 cm dan beratnya 11-15 kg.
Kera hitam sendiri hidup secara berkelompok yang terdiri dari 5 hingga 10 ekor. Kelompok besar biasanya terdiri dari beberapa pejantan dan banyak betina dewasa yakni dengan perbandinga 1:3 yaitu satu ekor jantan berbanding dengan 3 ekor betina.
Kera hitam ini dapat ditemukan di Sulawesi Utara di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Cagar Alam Gunung Ambang, Taman Wisata Alam Batuputih dam Cagar Alam Gunung Duasudara.
3. Kuskus Beruang Sulawesi
Klasifikasi Beruang Sulawesi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mamalia
Sub-Class : Marsupialia
Ordo : Diprotodontalia
Sub-ordo : Phalangeriformes
Family : Phalangeridae
Genus : Ailurops
Spesies : A. Ursinus
Kuskus Beruang Sulawesi dengan nama latin Ailurops ursinus merupakan satwa yang termasuk ke dalam famili Phalangeridae. Satwa ini hidup di hutan tropis dataran rendah dengan kondisi lembab. Satwa satu ini endemik pulau Sulawesi dan juga sekitarnya seperti kepulauan Butung, kepulauan Togian, kepulauan Muna dan kepulauan Peleng.
Kuskus Beruang Sulawesi memiliki ukuran tubuh yang besar dibandingkan jenis kuskus lainnya. Memiliki panjang kepala dan badan 56 cm dengan panjang ekor 54 cm serta beratnya yang mencapai 8 kg. Kuskus termasuk satwa yang memiliki keistimewaan di bagian ekornya, dimana ekor kuskus dapat digunakan untuk bergelantungan ataupun melilit batang pohon saat mencari makan dan dapat digunakan sebagai alat untuk menggantung yang menahan seluruh beban tubuh dengan posisi kepalanya menghadap ke bawah. Kuskus beruang termasuk satwa yang bersifat diurnal yaitu aktif pada siang hari. Sebagian besar aktivitas kuskus digunakan untuk tidur dan istirahat, sedikit waktunya digunakan untuk mengutu dan makan. Penyebaran kuskus di Indonesia terbatas yaitu di wilayah Indonesia Timur meliputi pulau Sulawesi, Timor dan Irian Jaya. Untuk lebih spesifiknya berada di Taman Nasional Bantimurung Bulusarung dan juga di kawasan pegunungan Lompo Battang yang berada di Sulawesi Selatan.
4. Babirusa
Klasifikasi Babirusa
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Suidae
Genus : Babyrousa
Spesies : Babyrousa babyrussa
Babirusa termasuk marga satwa dari jenis-jenis babi liar yang hanya terdapat di sekitar pulau Sulawesi, pulau Togian, Sula, Malenge serta pulau-
pulau Maluku lainnya. Habitat babirusa rata-rata ditemukan di daerah hutan hujan tropis. Satwa yang satu ini memiliki kegemaran memakan
tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan seperti jamur, dedaunan dan juga mangga.
Babirusa termasuk satwa endemik Sulawesi yang memiliki tubuh yang menyerupai babi namun ukurannya lebih kecil. Perbedaan antara babirusa dan
babi yaitu babirusa memiliki taring panjang yang menembus moncongnya.
5. Tarsius
Klasifikasi Tarsius
Kingdom : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Famili : Tarsiidae
Genus : Tarsius
Spesies : T. tarsier
Tarsius adalah jenis satwa yang memiliki tubuh istimewa, dimana satwa ini memiliki tulang tarsal yang memanjang dan membentuk pergelangan
sehingga memungkinkan tarsius untuk melompat dengan jarak 3 meter dari satu pohon ke pohon lainnya. Ciri lain dari tarsius adalah memiliki ekor
panjang yang tidak berbulu kecuali bagian ujungnya. Selanjutnya tarsius juga memiliki lima jari yang panjang dengan kuku kecuali pada jari kedua
serta ketiganya yang memiliki cakar yang biasa digunakan tarsius untuk grooming.
Tarsius adalah jenis satwa yang hidup nokturnal yang artinya melakukan aktivitas pada malam hari dan tidur pada siang hari. Makanan atau mangsa
utama dari satwa yang satu ini adalah serangga seprti jangkrik, kecoa, kelelawar, burung dan terkadang memakan reptil-reptil kecil.
Satwa ini memiliki habitat yaitu hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan serta pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Peleng, Suwu dan
Selayar. Tarsius sendiri lebih dikenal masyarakat setempat dengan nama “balao cengke” yang dalam bahasa indonesia berarti tikus jongkok.
6. Anoa Pegunungan
Klasifikasi Anoa Pegunungan
Kingdom : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Cetartiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bubalus
Spesies : B. quarlesi
Anoa Pegunungan adalah jenis satwa yang termasuk ke dalam famili Bovidae. Anoa pegunungan dikenal juga dengan nama yang khas seperti Mountain Anoa, Anoa de Quarle dan juga Berganoa. Anoa pegunungan memiliki ciri panjang dari kepala sampai kaki 122-153 cm, panjang ekor yang mencapai 27 cm dengan tinggi bahu kurang dari 75 cm. Anoa pegunungan dewasa memiliki bobot tubuh mencapai 150 kg, bulu yang tebal dengan warna cokelat hitam atau gelap serta tanduk yang panjangnya mencapai 20 cm. Untuk membedakan anoa jantan dan betina dapat dilihat dari warna bulu, dimana anoa jantan memiliki warna lebih gelap dibandingkan anoa betina. Anoa pegunungan banyak ditemukan di pulau Sulawesi dan pulau Buton. Anoa pegunungan termasuk kedalam kategori hewan hutan hujan. Anoa pegunungan aktif di pagi hari dan kembali ke tempat berlindungnya saat tengah hari. Anoa pegunungan juga termasuk satwa yang hidup secara soliter atau berkelompok.
7. Anoa Dataran Rendah
Klasifikasi Anoa Dataran Rendah
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bubalus
Spesies : Bubalus depressicornis
Satwa endemik terakhi dari Sulawesi ini dikenal dengan anoa dataran rendah. Anoa ini memiliki ciri yang mirip dengan kerbau dimana bobot
tubuhnya berkisar 150-300 kg. Anoa juga memiliki bentuk tanduk yang melingkar dengan ukuran 18-37 cm. Tinggi tubuh anoa di sekitar bahu
berkisar 95-110 cm dan panjang tubuh mencapai 180 cm. Anoa dataran rendah dikenal juga dengan nama kerbau kerdil. Gelar yang wajar bagi anoa
dikarenakan cirinya yang mirip dengan kerbau akan tetapi memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan pendek.Itulah 11 satwa endemik pulau Sulawesi yang saya informasikan untuk anda. Jika ada kesalahan dalam penulisan serta informasi yang disampaikan,
silahkan tulis di kolom komentar. Semoga bermanfaat.
Klasifikasi Kera Hitam Sulawesi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Genus : Macaca
Spesies : M.nigra
Kera Hitam Sulawesi yang memiliki nama latin Macaca nigra. Kera ini memiliki ciri-ciri dimana seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu berwarna hitam lebat kecuali pada bagian punggung serta selangkangan yang berwarna agak terang dan juga pada bagian pantat yang berwarna kemerahan. Ciri selanjutnya dari kera ini yakni pada kepalanya terdapat jambul yang agak menonjol dengan panjang tubuh dewasa 45-57 cm dan beratnya 11-15 kg.
Kera hitam sendiri hidup secara berkelompok yang terdiri dari 5 hingga 10 ekor. Kelompok besar biasanya terdiri dari beberapa pejantan dan banyak betina dewasa yakni dengan perbandinga 1:3 yaitu satu ekor jantan berbanding dengan 3 ekor betina.
Kera hitam ini dapat ditemukan di Sulawesi Utara di Cagar Alam Gunung Tangkoko Batuangus, Cagar Alam Gunung Ambang, Taman Wisata Alam Batuputih dam Cagar Alam Gunung Duasudara.
3. Kuskus Beruang Sulawesi
Klasifikasi Beruang Sulawesi
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Mamalia
Sub-Class : Marsupialia
Ordo : Diprotodontalia
Sub-ordo : Phalangeriformes
Family : Phalangeridae
Genus : Ailurops
Spesies : A. Ursinus
Kuskus Beruang Sulawesi dengan nama latin Ailurops ursinus merupakan satwa yang termasuk ke dalam famili Phalangeridae. Satwa ini hidup di hutan tropis dataran rendah dengan kondisi lembab. Satwa satu ini endemik pulau Sulawesi dan juga sekitarnya seperti kepulauan Butung, kepulauan Togian, kepulauan Muna dan kepulauan Peleng.
Kuskus Beruang Sulawesi memiliki ukuran tubuh yang besar dibandingkan jenis kuskus lainnya. Memiliki panjang kepala dan badan 56 cm dengan panjang ekor 54 cm serta beratnya yang mencapai 8 kg. Kuskus termasuk satwa yang memiliki keistimewaan di bagian ekornya, dimana ekor kuskus dapat digunakan untuk bergelantungan ataupun melilit batang pohon saat mencari makan dan dapat digunakan sebagai alat untuk menggantung yang menahan seluruh beban tubuh dengan posisi kepalanya menghadap ke bawah. Kuskus beruang termasuk satwa yang bersifat diurnal yaitu aktif pada siang hari. Sebagian besar aktivitas kuskus digunakan untuk tidur dan istirahat, sedikit waktunya digunakan untuk mengutu dan makan. Penyebaran kuskus di Indonesia terbatas yaitu di wilayah Indonesia Timur meliputi pulau Sulawesi, Timor dan Irian Jaya. Untuk lebih spesifiknya berada di Taman Nasional Bantimurung Bulusarung dan juga di kawasan pegunungan Lompo Battang yang berada di Sulawesi Selatan.
4. Babirusa
Klasifikasi Babirusa
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Suidae
Genus : Babyrousa
Spesies : Babyrousa babyrussa
Babirusa termasuk marga satwa dari jenis-jenis babi liar yang hanya terdapat di sekitar pulau Sulawesi, pulau Togian, Sula, Malenge serta pulau-
pulau Maluku lainnya. Habitat babirusa rata-rata ditemukan di daerah hutan hujan tropis. Satwa yang satu ini memiliki kegemaran memakan
tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan seperti jamur, dedaunan dan juga mangga.
Babirusa termasuk satwa endemik Sulawesi yang memiliki tubuh yang menyerupai babi namun ukurannya lebih kecil. Perbedaan antara babirusa dan
babi yaitu babirusa memiliki taring panjang yang menembus moncongnya.
5. Tarsius
Klasifikasi Tarsius
Kingdom : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Primata
Famili : Tarsiidae
Genus : Tarsius
Spesies : T. tarsier
Tarsius adalah jenis satwa yang memiliki tubuh istimewa, dimana satwa ini memiliki tulang tarsal yang memanjang dan membentuk pergelangan
sehingga memungkinkan tarsius untuk melompat dengan jarak 3 meter dari satu pohon ke pohon lainnya. Ciri lain dari tarsius adalah memiliki ekor
panjang yang tidak berbulu kecuali bagian ujungnya. Selanjutnya tarsius juga memiliki lima jari yang panjang dengan kuku kecuali pada jari kedua
serta ketiganya yang memiliki cakar yang biasa digunakan tarsius untuk grooming.
Tarsius adalah jenis satwa yang hidup nokturnal yang artinya melakukan aktivitas pada malam hari dan tidur pada siang hari. Makanan atau mangsa
utama dari satwa yang satu ini adalah serangga seprti jangkrik, kecoa, kelelawar, burung dan terkadang memakan reptil-reptil kecil.
Satwa ini memiliki habitat yaitu hutan-hutan Sulawesi Utara hingga Sulawesi Selatan serta pulau-pulau sekitar Sulawesi seperti Peleng, Suwu dan
Selayar. Tarsius sendiri lebih dikenal masyarakat setempat dengan nama “balao cengke” yang dalam bahasa indonesia berarti tikus jongkok.
6. Anoa Pegunungan
Klasifikasi Anoa Pegunungan
Kingdom : Animalia
Divisi : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Cetartiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bubalus
Spesies : B. quarlesi
Anoa Pegunungan adalah jenis satwa yang termasuk ke dalam famili Bovidae. Anoa pegunungan dikenal juga dengan nama yang khas seperti Mountain Anoa, Anoa de Quarle dan juga Berganoa. Anoa pegunungan memiliki ciri panjang dari kepala sampai kaki 122-153 cm, panjang ekor yang mencapai 27 cm dengan tinggi bahu kurang dari 75 cm. Anoa pegunungan dewasa memiliki bobot tubuh mencapai 150 kg, bulu yang tebal dengan warna cokelat hitam atau gelap serta tanduk yang panjangnya mencapai 20 cm. Untuk membedakan anoa jantan dan betina dapat dilihat dari warna bulu, dimana anoa jantan memiliki warna lebih gelap dibandingkan anoa betina. Anoa pegunungan banyak ditemukan di pulau Sulawesi dan pulau Buton. Anoa pegunungan termasuk kedalam kategori hewan hutan hujan. Anoa pegunungan aktif di pagi hari dan kembali ke tempat berlindungnya saat tengah hari. Anoa pegunungan juga termasuk satwa yang hidup secara soliter atau berkelompok.
7. Anoa Dataran Rendah
Klasifikasi Anoa Dataran Rendah
Kingdom : Animalia
Phyllum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Artiodactyla
Famili : Bovidae
Genus : Bubalus
Spesies : Bubalus depressicornis
Satwa endemik terakhi dari Sulawesi ini dikenal dengan anoa dataran rendah. Anoa ini memiliki ciri yang mirip dengan kerbau dimana bobot
tubuhnya berkisar 150-300 kg. Anoa juga memiliki bentuk tanduk yang melingkar dengan ukuran 18-37 cm. Tinggi tubuh anoa di sekitar bahu
berkisar 95-110 cm dan panjang tubuh mencapai 180 cm. Anoa dataran rendah dikenal juga dengan nama kerbau kerdil. Gelar yang wajar bagi anoa
dikarenakan cirinya yang mirip dengan kerbau akan tetapi memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dan pendek.Itulah 11 satwa endemik pulau Sulawesi yang saya informasikan untuk anda. Jika ada kesalahan dalam penulisan serta informasi yang disampaikan,
silahkan tulis di kolom komentar. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar